Konveksi Tas Wanita di Bandung

Konveksi Wearpack Bahan Drill [Bagian 2]


Konveksi Wearpack Bahan Drill - Awalnya, Amir adalah pemuda biasa dari keluarga sederhana di Kabupaten Soppeng. Pada tahun 1999, ia mulai masuk ke STM. Selain sekolah, setiap hari ia menghabiskan waktunya membantu keluarga di kebun. Dua tahun kemudian, ia berhenti sekolah. Kendala ekonomi jadi alasan. Ia lalu hijrah ke Kendari. Di sana ia berkebun lagi. Namun di Kendari, ia kian gelisah. Mengelola kebun mulai dianggapnya sebagai pekerjaan yang tidak layak. Lalu, oleh kakaknya, Muh Aras, ia diajak ke Makassar untuk belajar menjahit. Muh Aras adalah pemilik dari Hero Tailor.

Karena juga tak punya keterampilan tailoring, ia juga mulai merasa bosan. Namun, kakaknya melihat adiknya punya potensi. Amiruddin diajar menjahit. Awalnya ia diminta membuat celana untuk keponakannya. Begitu seterusnya hingga ia menjadi mahir.

"Sekitar satu bulan saya diminta untuk belajar menjahit dengan membuat celana atau baju untuk ponakan saya. Setelah sebulan lebih, akhirnya saya diizinkan untuk menjahit kain pelanggan," jelas Amir. Setelah dua tahun di Hero sejak 2002, ia lalu diangkat menjadi manajer produksi oleh kakaknya.

Sejak menjadi manajer produksi, pengetahuannya bertambah. Jika dulu ia hanya tahu cara menjahit, kini ia juga mempelajari hal-hal lain termasuk manajemen perusahaan. Di tangannya, perkembangan Hero cukup drastis. Ia lalu berpikir untuk membuat usaha serupa karena telah mempunyai pengalaman yang cukup. Pada tahun 2007 ia memutuskan berhenti dan membuka usaha sendiri, tentu saja atas restu kakaknya, M Aras, pemilik Hero Tailor.

Selanjutnya

Artikel Terkait