Konveksi Tas Wanita di Bandung

Jilbab Berdasarkan Sejarah [Bagian 3]


Jilbab Berdasarkan Sejarah - Sebut saja Hijabers Community, komunitas yang terjalin pada tahun 2010 itu menjadi tonggak baru dalam perubahan model berhijab bagi muslimah di Indonesia. Digawangi oleh Dian Pelangi, seorang perempuan asal Pekalongan, Hijabers Community mendobrak stigma negatif bahwa perempuan berjilbab/berhijab adalah perempuan kampungan dan kuno.

Tak hanya merancang busana muslim dari satu kiblat, Dian Pelangi sang penggagas Hijabers Community yang disebut-sebut sebagai trendsetter muslimah modern itu merancang busana muslimah dengan memadukan antara style Timur Tengah yang unik dan style Eropa yang menarik.

Dimulai pada tahun 2009, kali pertama Dian Pelangi menunjukkan model busana perpaduan antara busana muslimah dan style modern di sebuah helatan fashion show di Melbourne Australia, kini, Dian Pelangi telah membuat begitu banyak perempuan muslimah bangga dengan hijab yang mereka kenakan, hijab yang dulu dianggap tak trendy kini menjelma sesuatu yang sangat fashionable dan kosmopolitan.


Bahkan, rencananya pada akhir tahun ini akan digelar Muslim World Exhibition di Paris, Perancis. Sebuah gelaran yang akan membuka mata dunia untuk melihat bahwa betapa muslimah, beserta hijab kebanggaannya, adalah bagian dari peradaban dunia yang harus diapresiasi.

Yang lebih menarik lagi, Hijabers Community juga hendak menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia sepuluh tahun mendatang. Sebuah langkah yang progresif untuk “meninggikan” martabat hijab di hadapan masyarakat dunia yang selama ini masih ada sebagian yang bersikap diskriminatif dan sentimen terhadap perempuan berjilbab.

Dari sinilah kemudian muncul istilah modern hijab, diksi hijab pun tak melulu soal identitas ataupun budaya konvensional dan tak progresif. Namun jauh melampaui itu, dengan identitas yang muslimah miliki, hijab telah memiliki bargaining position yang cukup tinggi di mata dunia. Dengan hijab yang stylish itu pula, muslimah bangga menjadi dirinya sendiri, mereka pun, tak lagi risau akan dianggap ketinggalan zaman.

Referensi:
Suara Merdeka, 20 Desember 2012

Artikel Terkait