Konveksi Tas Wanita di Bandung

Jilbab Berdasarkan Sejarah [Bagian 2]


Jilbab Berdasarkan Sejarah - Ketika memperingati World Hijab Day di Eropa pada 4 September lalu, beberapa kelompok ibu-ibu dan remaja muslimah di berbagai negara,  melakukan aksi long march dengan spanduk-spanduk bertuliskan “Hijab is my pride”, “Hijab is my right” dll.  Menjadi menarik ketika gelombang para muslimah itu mengenakan hijab dengan perbedaan style berhijab.

Bahkan di Paskistan, para muslimah yang menyuarakan hak-hak mereka untuk berhijab -sebagai bentuk protes terhadap Eropa yang melarang penggunaan hijab waktu itu- mengenakan hijab yang tak seragam, beberapa di antaranya mengenakan hijab yang menutup seluruh wajah kecuali mata, atau kita kenal dengan cadar, dan beberapa di antaranya tak memakai cadar. Namun perbedaan style berhijab itu sesungguhnya tak berarti apapun sebab mereka menyuarakan hal yang sama, mereka menuntut hak-hak yang sama, yakni dihargainya mereka mengenakan hijab sebagai kebanggaan mereka.


High-class Hijab di Indonesia
Ketika negara lain memperingati hari Hijab dengan long march, di Indonesia, para muslimah justru membuat perubahan baru dalam budaya berhijab di Indonesia. Para muslimah yang getol dengan dunia fashion merasa perlu mengangkat “martabat” hijab di mata dunia yang selama ini selalu diasosiasikan sebagai simbol keterkungkungan perempuan dalam tradisi kuno.

Sebut saja Hijabers Community, komunitas yang terjalin pada tahun 2010 itu menjadi tonggak baru dalam perubahan model berhijab bagi muslimah di Indonesia. Digawangi oleh Dian Pelangi, seorang perempuan asal Pekalongan, Hijabers Community mendobrak stigma negatif bahwa perempuan berjilbab/berhijab adalah perempuan kampungan dan kuno.

Selanjutnya

Artikel Terkait