Saturday, November 17, 2012

Konveksi Jas Almamater [Bagian 4]

Konveksi Jas Almamater - Eksistensi jaket almamater dalam setiap aksi demonstrasi mahasiswa merupakan satu simbol kehormatan perguruan tinggi. Artinya, semakin sering jaket almamater itu muncul, maka kehormatan perguruan tinggi akan naik. Sebaliknya, jika jaket almamater tidak pernah atau jarang terlihat dalam setiap aksi mahasiswa, maka itu menunjukkan kehormatan perguruan tinggi menurun. Bahkan perguruan tinggi itu akan mendapat cap yang negatif dari kalangan aktivis karena dianggap apatis. Inilah yang menyebabkan jaket almamater dianggap sakral.

Mengalami Devaluasi

Namun, tampaknya sekarang ini jaket almamater mengalami devaluasi (penurunan nilai). Penurunan nilai itu terjadi ketika kini tak jarang ditemukan jaket almamater dikenakan dalam acara-acara guyonan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendidikan. Seperti yang kita ketahui saat ini, banyak sekali talk show yang melibatkan mahasiswa sebagai penontonnya. Ironisnya, mereka bangga telah memakai almamater itu dalam acara-acara humor. Malah, mereka menganggap bahwa dengan begitu, mereka sudah mempromosikan kampus mereka. Para mahasiswa terlihat begitu menikmati acara-acara yang sama sekali tidak berpendidikan.

Realitas ini membuat mahasiswa sekarang kehilangan jati dirinya. Dalam hal ini, kebanyakan mahasiswa tidak lagi mempunyai idealitas yang kuat, yang ada hanyalah gaya hedonistis dan pragmatis. Kemudian inilah yang membuat mahasiswa kehilangan kekritisannya dalam menemui setiap masalah, khususnya dalam masalah negara.

Penyebabnya adalah kebanyakan mahasiswa tidak mengerti bahwa mereka mempunyai peran dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Para mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka bisa kuliah karena adanya subsidi dari negara. Perlu diingat juga bahwa negara memberikan subsidi kepada perguruan tinggi untuk menyelenggarakan proses pendidikan tidak lain adalah dari uang rakyat. Tidak peduli rakyat itu miskin atau kaya. Mahasiswa harus berpikir, bahwa subsidi itu berasal dari ibu-ibu penjual kangkung di pasar, buruh tani yang berkerja panas-panasan, para nelayan yang berjuang di lautan lepas, dan lain sebagainya. Melalui pajaklah mereka menyalurkan uangnya untuk memberikan subsisdi kepada perguruan tinggi.

Selanjutnya

Bagikan

Jangan lewatkan

Konveksi Jas Almamater [Bagian 4]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.