Saturday, October 27, 2012

Penjual Tunik dan Gamis Mengungkapkan Sejarah di Balik Busana Rajutan [Bagian 3]


Penjual Tunik dan Gamis Mengungkapkan Sejarah di Balik Busana Rajutan - Awalnya sebuah jaket rajut dibuat dengan lengan panjang tanpa kerah dan juga beberapa kancing di bagian depan. Model ini disebut juga sebagai cardigan. Nama kardigan  sendiri diberikan oleh Jam Thomas Brudnell (1797-1868) yang saat itu adalah pemimpin perang dari Inggris. Pada tahun 1920-1930 desainer Chanel ikut mempopulerkan kardigan  sebagai atasan yang dipadu dengan rok celana panjang atau short, dan menjadi icon Chanel sampai saat ini.

Selain itu juga, kain rajut dapat dibuat menjadi capuchin, Capuchon sendiri adalah sejenis jaket dari bahan rajut yang dilengkapi topi atau kupluk pada bagian lingkar kerahnya. Ada lagi Vest. Yaitu sebuah busana blus tanpa lengan dengan model V rendah, model ini biasanya dipakai untuk dalaman jas. Vest mulai populer pada tahun 1920an.

Semua orang mengenal sweater sebagai busana dengan bahan kain rajut. Sweater pada awalnya dikenal sebagai pakaian tenis dan golf di negara-negara musim dingin. Sweater lebih cepat menyerap keringat karena jenis rajutan dari benang katun. Di tahun 1930-1950 sweater mulai berkembang, tidak hanya sebagai pakaian hangat saja, tetapi juga sebagai pakaian pelengkap nan cantik.

Pullovers adalah busana lain yang dibuat dengan benang rajut. Baju hangat lengan panjang tanpa kerah tetapi biasanya ditambah dengan aksen bulu-bulu pada lingkar kerahnya. Pullover ini awalnya dipakai sebagai seragam untuk para tentara pada saat Perang Dunia I. Kemudian, pada tahun 1920, pola pakaian ini mulai berubah pada lingkar lehernya, mulai dari round neck, dan V-neck. Sehingga busana ini mulai layak untuk digunakan oleh masyarakat umum.

Selanjutnya

Bagikan

Jangan lewatkan

Penjual Tunik dan Gamis Mengungkapkan Sejarah di Balik Busana Rajutan [Bagian 3]
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.